Minggu, 23 Jun 2024
  • SDIT Thariq Bin Ziyad Membangun Pribadi Shaleh & Cerdas
TUTUP MENU

PUASA SUNAH TASU’A DAN ASYURO, BUKTI TOLERANSI ZAMAN NABI

Teman-teman, dan adik-adik tahukan kalian bahwa roleransi dalam Islam sudah ada sejak awal, selain dalam Al-Qur’an juga sudah ada dan dicontohkan di zama nabi Muhammad SAW.

Al-Qur’an menjelaskan dalam surat Al-Baqoroh yakni LAA IKROHA FIDDIIN/ لا اكراه فى الدين yang artinya “Tidak ada paksaan dalam beragama”, begitu juga di dalam surat Al-Kaafirun yang sudah sama-sama kita hafal, yakni LAKUM DIINUKUM WALIYADIIN/ لكم دينكم ولي دين yang artinya “untuk mu agamamu dan untukku agamaku”.

Sedangkan dalam hadits nabi SAW yang menjelaskan tentang puasa sunah tasu’a dan asyuro, Rosulullah menjelaskan, dari Ibnu Abbas RA, ia berkata:

“𝙺𝚎𝚝𝚒𝚔𝚊 𝙽𝚊𝚋𝚒 𝙼𝚞𝚑𝚊𝚖𝚖𝚊𝚍 𝚂𝙰𝚆 𝚝𝚒𝚋𝚊 𝚍𝚒 𝙼𝚊𝚍𝚒𝚗𝚊𝚑, 𝚋𝚎𝚕𝚒𝚊𝚞 𝚖𝚎𝚕𝚒𝚑𝚊𝚝 𝚘𝚛𝚊𝚗𝚐-𝚘𝚛𝚊𝚗𝚐 𝚈𝚊𝚑𝚞𝚍𝚒 𝚋𝚎𝚛𝚙𝚞𝚊𝚜𝚊 𝚍𝚒 𝚑𝚊𝚛𝚒 𝙰𝚜𝚢𝚞𝚛𝚊. 𝙱𝚎𝚕𝚒𝚊𝚞 𝚋𝚎𝚛𝚝𝚊𝚗𝚢𝚊, ‘𝙷𝚊𝚛𝚒 𝚊𝚙𝚊 𝚒𝚗𝚒?’ 𝙼𝚎𝚛𝚎𝚔𝚊 𝚖𝚎𝚗𝚓𝚊𝚠𝚊𝚋, ‘𝙷𝚊𝚛𝚒 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚋𝚊𝚒𝚔, 𝚑𝚊𝚛𝚒 𝚍𝚒 𝚖𝚊𝚗𝚊 𝙰𝚕𝚕𝚊𝚑 𝚖𝚎𝚗𝚢𝚎𝚕𝚊𝚖𝚊𝚝𝚔𝚊𝚗 𝙱𝚊𝚗𝚒 𝙸𝚜𝚛𝚊𝚒𝚕 𝚍𝚊𝚛𝚒 𝚖𝚞𝚜𝚞𝚑𝚗𝚢𝚊, 𝚜𝚎𝚑𝚒𝚗𝚐𝚐𝚊 𝙼𝚞𝚜𝚊 𝚙𝚞𝚗 𝚋𝚎𝚛𝚙𝚞𝚊𝚜𝚊 𝚙𝚊𝚍𝚊 𝚑𝚊𝚛𝚒 𝚒𝚗𝚒 𝚜𝚎𝚋𝚊𝚐𝚊𝚒 𝚋𝚎𝚗𝚝𝚞𝚔 𝚜𝚢𝚞𝚔𝚞𝚛 𝚔𝚎𝚙𝚊𝚍𝚊 𝙰𝚕𝚕𝚊𝚑. 𝙰𝚔𝚑𝚒𝚛𝚗𝚢𝚊, 𝙽𝚊𝚋𝚒 𝙼𝚞𝚑𝚊𝚖𝚖𝚊𝚍 𝚂𝙰𝚆. 𝚋𝚎𝚛𝚜𝚊𝚋𝚍𝚊, ‘𝙺𝚊𝚖𝚒 (𝚔𝚊𝚞𝚖 𝚖𝚞𝚜𝚕𝚒𝚖𝚒𝚗) 𝚕𝚎𝚋𝚒𝚑 𝚕𝚊𝚢𝚊𝚔 𝚖𝚎𝚗𝚐𝚑𝚘𝚛𝚖𝚊𝚝𝚒 𝙼𝚞𝚜𝚊 𝚍𝚊𝚛𝚒𝚙𝚊𝚍𝚊 𝚔𝚊𝚕𝚒𝚊𝚗.’ 𝙺𝚎𝚖𝚞𝚍𝚒𝚊𝚗, 𝙽𝚊𝚋𝚒 𝙼𝚞𝚑𝚊𝚖𝚖𝚊𝚍 𝚂𝙰𝚆 𝚋𝚎𝚛𝚙𝚞𝚊𝚜𝚊 𝚍𝚊𝚗 𝚖𝚎𝚖𝚎𝚛𝚒𝚗𝚝𝚊𝚑𝚔𝚊𝚗 𝚙𝚊𝚛𝚊 𝚜𝚊𝚑𝚊𝚋𝚊𝚝 𝚞𝚗𝚝𝚞𝚔 𝚋𝚎𝚛𝚙𝚞𝚊𝚜𝚊.” (𝙷𝚁 𝙼𝚞𝚜𝚕𝚒𝚖)

Dari ayat Al-Quran dan Hadits nabi SAW di atas kita dapat menyimpulkan bahwa toleransi yang digadang-gadang kebanyakan orang saat ini ternyata sudah ada dalam Islam dan dicontohkan langsung oleh Sang Nabi mulia, nabi akhir zaman.

Sehingga duduk perkara agama-agama yang ada di dunia saat ini bisa berkaca kepada Al-Qur’an dan Sunnah atau hadits Nabi Muhammad SAW di atas.

Toleransi yang sesungguhnya bukan menyamaratakan agama atau ajarannya, akan tetapi toleransi yang memberikan hak penuh kepada keotentikan, keaslian, kemurnian dari ajaran masing-masing. Seraya berucap sebagaimana ucapan Allah SWT dalam Al-Quran dan hadits Nabi SAW yakni WAKUUNUU IBADALLAHI IKHWAANAA/ وكونوا عباد الله اخوانا yang artinya _”Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Persaudaraan dimaksud tentu mencakup persaudaraan sedarah, seaqidah, sekeyakina, sebangsa atau setanah air dan saudara sesama makhluk Allah yakni kemanusiaan. Wallahu a’lam [DM]

Post Terkait

1 Komentar

You should be a part of a contest for one of the best sites online. Im going to highly recommend this website!

Balas

KELUAR